JUPE DIVONIS MATI

Tidak ada candaan April-Mop yang paling menakutkan dibandingkan kabar: Hidup Julia Perez divonis tinggal 7 bulan lagi. Tapi, sedihnya, ini bukan April-Mop. Bibir Jupe sendiri yang merilis pengakuan, dirinya sudah divonis oleh tim medis sebuah rumah sakit pusat kanker nasional, hidupnya diramalkan tersisa 7 bulan atau hanya sampai Bulan November mendatang.

Tak lama, Jupe  memplontosi kepalanya licin tandas. Ia bilang aksinya sebagai bentuk solidaritas dengan penyandang kanker lainnya, tetapi banyak yang  menduga hal itu sebagai dampak dari pengobatan kanker yang terus ia jalani terutama kemoterapi. Kanker yang sejak dua tahun silam ia obati secara intensif di Singapura sepertinya tidak sembuh betul.

Tapi, benarkah hidup Jupe akan berakhir di Bulan November mendatang? Faktanya, kematian tak seorang pun tahu. Kematian seperti juga nasib manusia sepenuhnya terletak di tangan Tuhan.  Di sinilah, kita musti apresiasi sikap Jupe—sikap yang paling nggak kelihatan di luar. Jupe menunjukkan sikap luar biasa, tetap riang dan rileks menjalani kehidupannya, seakan vonis dokter bukan keputusan Tuhan.  Jupe betul-betul menghayati kebijaksaan kuno: Man proposes, God disposes. Manusia berkehendak, tetapi Tuhan-lah yang memutuskan. Jupe pilih untuk gembira meski di sisa hidup yang tak ia ketahui ujungnya. Ia pilih percaya, kehendak Tuhan-lah yang bakal terbaik untuknya, bukan kehendak medis atau manusia.

Mental yang gembira itu kuncinya. Seorang ahli psikologi yang bijak pernah berkata, “Kecemasan atas sakit itu membunuh lebih cepat daripada penyakit itu sendiri.” Nyatanya itulah yang sering terjadi. Mental manusia biasanya runtuh begitu divonis umur hidupnya sudah ditentukan oleh tim medis. Mental yang memburuk berakibat depresi dan stress justru makin memicu keruntuhan fisiknya. Dan, pada akhirnya, justru membenarkan omongan tim medis itu.

Jupe sadar itu. Ia tak ingin kalah sebelum bertanding. Ia bahkan ingin menang meski dengan peluang yang kecil, setidaknya kalah dengn tersenyum karena sudah berjuang sepenuh tenaga. Ia tak ingin mentalnya rubuh hanya gara-gara omongan dokter dan malah mempercepat keruntuhan fisiknya. Pada akhirnya, Jupe melakukan ikhtiar dan ikhtisar yang tepat. Ia pilih gembira dan bahagia, sementara ia terus menempuh pengobatan yang mungkin dilakukan, termasuk proses alternatif. Semoga saja seluruh upaya Jupe mampu mengetuk pintu hati Sang Khalik sehingga sudi bermurah hati memperpanjangkan usianya. Who knows? Wallahuallambissawab.

Oleh: Sabar al-Jugjawi

@selebtube.com

973 Total Views 1 Views Today

Berita Serupa