BEBERAPA ALASAN MENGAPA LAGU-LAGU IWAN FALS BISA DIJADIKAN INDIKATOR PERUBAHAN BANGSA

Apakah bangsa ini sudah mengalami perubahan atau masih jalan di tempat? Jawabannya tinggal kita lihat, apakah di masa sekarang  lagu-lagu Iwan Fals masih kontekstual? Jika jawabannya iya, maka artinya bangsa ini masih jalan di tempat. Jika tidak berarti sudah mengalami perubahan, karena lagu-lagu Iwan Fals bisa dijadikan indikator perubahan atau kemajuan.

Sudah hampir 4 dekade, Iwan Fals berkarya dari sejak album Oemar Bakrie di tahun 1978. Sejak saat itu ia menjadi legenda dan maestro untuk lagu-lagu balada dengan lirik-lirik kritik sosial yang tajam. Hampir seluruh aspek kehidupan sosial tidak luput dari kacamatanya, semua dengan sudut pandang kritik kritis atas pemerintahan Soeharto.

Ketika lagu Oemar Bakrie lahir, kondisi kehidupan guru cukup memprihatinkan. Guru atau dosen jadi profesi yang sangat tidak menarik. Gaji kecil tuntutan berat dan banyak. Guru hanya dijadikan pion politik, perpanjangan tangan penguasa yang sangat bernafsu melanggengkan kekuasaan. Dan untuk itu hanya cukup diberi embel-embel gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Lantas bagaimana keadaan guru sekarang? Sejak Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jadi Presiden, kesejahteraan guru ditingkatkan. Selain gaji, aneka tunjangan diberikan. Dan guru pun jadi salah satu profesi yang sangat diminati. Yang tersisa kini tinggal nasib para guru honorer yang sudah bertahun-tahun masalahnya belum juga terpecahkan.

Lantas soal prostitusi. Di era 80-an, Bang Iwan sudah menulis lagu Lonteku dan Doa Pengobral Dosa. Lagu itu menggambarkan kehidupan para pekerja seks komersial (PSK) yang sangat mengenaskan.  Tapi kemudian pusat-pusat lokalisasi besar seperti Kramat Tunggak, Saritem, Sun Kuning, Doli, dan terakhir Kali Jodo ditutup. Para PSK katanya diberi pelatihan keterampilan untuk mencari nafkah yang lebih manusiawi. Tapi apakah kini PSK sudah berkurang? Yang jelas, upaya penanganan penyakit masyarakat itu terus menerus diupayakan. Lalu masalah anak-anak jalanan dan pengemis. Tiga dekade silam bang Iwan menulis lagu Sore Tugu Pancoran dan bercerita tentang Budi kecil yang ngasong di kolong Pancoran. Dan, kini, kota-kota besar, terutama Jakarta hampir bersih dari Budi-Budi itu.

Yang menarik melihat konteks lagu Ujung Aspal Pondok Gede. Kala itu bang Iwan mengkritik hilangnya banyak sawah dan lading yang berganti dengan pabrik, kondominium dan perumahan  mewah. Kini hampir tak ada lagi celah di wilayah DKI jakarta yang belum tercakar oleh betonisasi dan hotmix serta bangunan mewah. Kini serakahnya kota dalam betonisasi ternyata tidak berhenti ketika ladang dan sawah sudah habis, malah kini meluas sampai ke pantai-pantai Jakarta, begitu juga di Makasar dan Bali.  Meski di daratan pemerintah dengan susah payah berusaha untuk membangun taman-taman dan kebun-kebun rakyat, serta daerah resapan air, tapi reklamasi masih terus berlanjut. Jadi, intinya, Lagu Ujung Aspal Pondok Gede masih relevan dan pembangunan itu ternyata belum menomersatukan lingkungan sama seperti tahun 80-an.

Dalam soal dunia pelayaran, lagu Iwan mungkin sudah mulai kehilangan konteksnya. Seperti Tampomas musibah kapal bekas kini sudah direvitalisasi semuanya dengan kapal-kapal baru, kendati kecelakaan kapal masih tetap terjadi. Soal penggundulan hutan, meski upaya untuk menanggulanginya sudah gencar dilakukan, tapi lagu Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi sepertinya masih relevan. Pembabatan hutan demi perkebunan Kelapa Sawit masih terjadi, begitu pula akibat ekplorasi sumber daya alam, khususnya pertambangan.

Salah satu lagu yang paling relevan dan mengindikasikan belum majunya negara adalah lagu Surat Buat Wakil Rakyat. Rezim berganti-ganti tetapi DPR tetap saja sarang tikus korupsi. Ini yang memprihatinkan, artinya Negara ini selama 30 tahun tidak beranjak tetapi justru makin parah secara mental dan moral. Lagu itu pula yang menjadi bukti negara ini tidak maju dalam soal demokrasi karena masih kuatnya budaya oligarki dan kolusi seperti di Banten, Pasuruan, dan lain-lain.

Salah satu lagu yang tak lekang adalah Sarjana Muda yang bercerita tentang nasib miris para pencari kerja terutama lulusan perguruan tinggi. Angka pengangguran naik 320 ribu jiwa dan tetap tinggi mencapai 7,56 juta orang atau sekitar 6,18% dari penduduk Indonesia. Angka PHK dan penurunan daya serap tenaga kerja akibat perlambatan ekonomi memicu naiknya angka pengangguran. Angka itu naik dari periode 2014 sebesar 5,94% atau sekitar 7,24 juta jiwa.

Oleh: Sabar Akbar

296 Total Views 2 Views Today

Berita Serupa